KEBAHAGIAAN TIDAK TERLEPAS DARI SOAL KEILAHIAN (Refleksi Teologis Atas Peristiwa Eksistensial)

                      Oleh: Yanuarius Satong
    Mahasiswa Fakultas Filsafat-UNWIRA Kupang


Suarakarumput.com-- Kebahagian bukanlah soal banyaknya harta, soal bisa duduk di atas kursi/tahta kekuasaan, dan tingginya profesi, soal banyaknya piala yang diraih dan lainnya. Tetapi kebahagiaan adalah bila saya dan kamu ada bersama Sang Ilahi. Kita dihinggapi oleh keilahian yang baik. Hanya jiwa yang merasakan itu. 

Seorang yang dihinggapi oleh keilahian ialah pola tindaknya, tutur katanya dan seluruh kepenuhan hidupnya mengarah kepada kebaikan, mengarah kepada keadilan dan mengarah kepada yang benar. Orang adil akan bahagia dalam tindakkannya itu sendiri. Di sini konsep bahagia bukan sebagai akibat dari perbuatan adil tetapi keduanya adalah satu kesatuan. Beradil maka dengan sendirinya ia bahagia. 

Dengan demikian kebahagiaan bukan dimengerti sebagai ‘upah-hadiah’ atau sebuah do ut des (saya memberi supaya engkau memberi). Sesuatu yang mustahil untuk dijelaskan bahwa orang bisa bahagia lewat tindakannya yang menepis nilai keadilan. Orang yang tidak berlaku adil dengan sendirinya kebahagiaan menjauh darinya.

Lebih agung lagi bahwa kebahagiaan berkaitan erat dengan keutamaan. Dalam artian bahwa kebahagian merupakan tujuan hidup yang mesti dan harus diraih oleh makhluk berakal budi. Utama karena kebahagiaan bukanlah bersifat sementara dan bukan hanya dirindukan pada saat kita hidup di dunia ini tetapi juga di saat kita beralih dari bumi fana ini. 
Jiwaa dan raga merindukan kebahagiaan. kebahagiaan tidak bisa dijelaskan dengan tampakan eksternal belaka atau tampilan yang dapat diinderai secara kasat mata. tetapi lebih mendalam yakni tampakkan internal (dari dalam).

Plato menjelaskan dengan contoh berikut: Alkisah ada orang yang benar-benar tidak adil dari hasil kejahatannya, ia kaya raya. Untuk menikmati kejahatannya, ia membangun sebuah kastil besar.Karena tidak mau bekerja kotor ia memperkerjakan bayak pekerja dan penjaga keamanan. Bahagiakah orang tak adil ini? menurut kesan mata tentu saja ia bahagia! Dan dunia kita penuh dengan orang seperti itu. banyak orang hidup tidak benar justru tampak enak hidupnya. 

Namun, Platon mempertanyakan kesan itu. Bayangkan saja si orang adil memang hidup enak. Namun karena dasarnya ia orang jahat maka pikirannya juga negatif. Ia sadar bahwa para pembantu dan penjaga rumahnya taat dan ramah kepadannya karena ia membayar orang-orang itu. Ia lama-lama curiga, jangan-jangan para pembantu ini ramah sejauh ia masih membayar mereka. Bila suatu hari hartanya habis dan ia tidak mampu membayar mereka lagi? atau jangan-jangan mereka semua saat ini juga sedang ‘menunggu saat yan tepat’ untuk merampok, membunuh, dan merampas seluruh harta bendannya! ia menjadi resah sendiri. 

Karena dikuasai ketakutan dan tidak menemukan alternatif lainnya, maka si orang jahat kemudian terpaksa berbaik-baik kepada pembantunya. Ia takut membuat pembantunya tersinggung atau marah, karena bila demikian, mereka punya alasan sah untuk membunuh dan merampoknya.Apakah orang kaya raya dengan banyak pembantu, serba kawatir, ini bahagia? Jawabanya jelas: ia hidup nikmat tetapi tidak bahagia. Nah, sama halnya dengan orang adil yang hidupnya tampak sengsara tetapi bahagia. Para Martir misalnya. mereka tampak sengsara karena dianiaya demi mempertahankan imannya akan Kristus tetapi dalam kesengsaraan yang tampak itu tersimpan kebahagiaan yang mendalam.

Bukankah kita kita tidak boleh berhenti penilaian luar saja? Bila kita yakin bahwa kebahagian adalah soal internal maka hanya jiwa sajalah yang memahaminya. Bahagia bukanlah soal harta, kuasa atau citra eksternal. Oleh karena itu, kita jangan merasa bahwa punya segalanya berarti kita bahagia.