Jenazah Korban Pengroyokan Karena Dianggap Suanggi, Digali Setelah 6 Bulan Dalam kubur. -->

Header Menu

Jenazah Korban Pengroyokan Karena Dianggap Suanggi, Digali Setelah 6 Bulan Dalam kubur.

Kamis, 11 November 2021

 Kupang, Suarakarumput.com--Jenazah Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT), yang meninggal dalam kasus penganiayaan, pada Mei 2021 lalu, digali kembali setelah enam bulan dalam kubur. Digali demi kepentingan otopsi.

Foto:ist

Kasus penganiayaan yang menyebabkan seorang IRT yang meninggal pada bulan Mei 2021 lalu, terus ditangani oleh pihak kepolisian Polsek Kupang Barat. 

Penganiayaan itu terjadi karena dituduh ibu tersebut adalah tukang santet.

Untuk memperkuat dan membuktikan dugaan korban dianiaya hingga meninggal dunia, maka dilakukan otopsi pada Rabu (10/11/2021).

Otopsi dilakukan dengan menggali kembali kubur jenazah korban YSL (61), warga Desa Bone, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.

Oyopsi dilakukan di Desa Taloitan, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang. 

Proses Otopsi dilakukan dan berlangsung selama kurang lebih 1 jam.

Otopsi ini diakui oleh Kapolsek Kupang Barat Ipda Hendra Karel Wadu, S.Psi, sesuai dengan laporan Polisi Nomor L/B/22/VI/2021/Polsek Kupang Barat tanggal 17 Juni 2021.

Otopsi tersebut di pimpin oleh dokter Forensik Bid Dokkes Polfa NTT, AKBP Edi Syaputra Hasibuan, SpKF, MHKes denga anggota TIM, Briptu Dian Umbu Nay, S.KM, Bripda Saint Tefnait, A.Md.Kep dan Ps Kaur Iden Alipda Safrizal (Inavis Polres) serta Brigpol M. Amin Akbar (Inavis Polres Kupang)

(Otopsi) atas surat permohonan otopsi dari pihak keluarga dalam hal ini suami korban dalam kasus pengroyokan" ujar Kapolsek Kupang Barat.

Otopsi dilakukan oleh tim Medis atas permintaan melalui surat permohonan secara tertulis oleh pihak keluarga untuk memeriksa beberapa bagian organ tubuh untuk melengkapi berkas dalam rangka mengungkap kasus pengroyokan yang terjadi pada tanggal 08 Mei 2021 di Rumah Korban, di Desa Bone, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang.

Kasus ini dilapor oleh suami Korban FL (61). Korban di aniaya dan dikeroyok oleh sejumlah warga DNalias Doni, MN alias Melki, AM alias Nia dan YB alias Yansen. Saat itu, Sabtu (08/05/2021) korban berada di rumahnya. Pelapor dan korban adalah suami istri yang tidak memiliki anak.

Pelaku cs datang kerumah korban dan menuduh bahwa korban dan suaminya adalah tukang santet (suanggi).

Atas tuduhan itu, belum ada tanggapan korban dan suami, sehingga para pelaku langsung melakukan pengroyokan terhadap korban dan suami.

Korban dan suaminya dipukul dengan menggunakan tangan terkepal serta menendang korban dan suami mengenai tubuh dan wajah hingga mengalami rasa sakit dibagian tubuh serta memar serta bengkak dibagian wajah.

Atas kejadian tersebut, korban mengalami rasa sakit sejak  8 Mei 2021 sehingga pada tanggal 18 Mei 2021 korban meninggal dunia.

"Tanpa (korban) sempat memberikan keterangan kepada para pelaku, para pelaku langsung memukul korban pada bagian wajahnya dan tubuh korban, sehingga korban merasa sakit. Setelah kejadian penganiayaan tersebut, 10 hari kemudian, korban akhirnya meninggal dunia," tambah Kapolsek Kupang Barat.

Korban dikuburkan pada tanggal 20 Mei 2021. Pada saat itu, pihak keluarga mempertanyakan penyebab kematian korba. Suami korban lalu melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kupang Barat.

Setelah melakukan BAP kebeberapa pihak  guna melengkapi beberap berkas, atas kejadian tersebut, dan korban sudah di kuburkan sehingga keluarga membuat permohonan otopsi.

"Kejadian tersebut sebenarnya hendak dilaporkan sejak awal kejadian, namun karena tamut dan tidak memahami atas kejadian tersebut, sehingga kejafian tersebut baru dilaporkan, pada 17 Juni 2021," ujarnya.