Kopi Kapal Api dan Faktanya

 Wawasan Baru_Kopi Kapal Api tentunya sangat sudah dikenal oleh Masyarakat Indonesia. Kopi dengan Merk Cap Kapal Api itu di Produksi Oleh PT. Santoso Jaya Abadi, Sidoarjo Jawa Timur yang dipimpin Oleh Soedomo Mergonoto.

Berdasarkan catatan dan Fakta sejarahnya, bisnis Kopi ini bermula dari usaha 3 orang bersaudara perantau Fujian Cina. Ketiga bersaudara itu bernama, Go Soe Loet, Go Bie Tjong, dan Go Soe Bie. Pada saat merantau ke Indonesia, sekitar tahu 1920, Go Soe Liet masih berumur 13 Tahun. Karena memang ketiganya berasal dari Fujian Cina, tentu saja ketiganya tidak bisa membaca, dan berbahasa Indonesia. Untuk bertahan hidup, ketiganya berusaha jual sayur mayur kurang lebih 7 tahunan.

Pada tahun 1927, ketiganya membuka bisnis baru dengan mendirikan perusahaan kopi bubuk dengan merk Hap Hoo Tjan  didaerah Pabean, tepatnya dijalan Panggung Surabaya.

Mereka bertiga mulai berjualan kopi usai mereka mengamati cara buat kopi  yang masih dilakukan dengan cara manual, mulai dari menimbang hingga membungkus kopi dengan kertas koran. 

Pada tahun 1928, ketiganya menjual kopi itu dengan cara dipikul. Sekali pergi berjualan kopi, setidaknya masing masing membawa 20 kilogram kopi bubuk. Mereka mulai berkeliling sekitar jam 6 pagi dari jalan Panggung menelusuri kampung-kampung hingga jam 3 sore.

Pada pagi hari mereka pergi ke Pelabuhan Tanjung Perak yang terkenal sangat ramai itu untuk berjualan kopi disana.

Untuk menekan harga agar harga kopinya dapat dijangkau oleh Masyarakat luas, mereka boasanya mencampur kopi dengan jagung. Perlahan -lahan kopinya banyak peminat, sehingga mereka memutuskan untuk naik becak  untuk mengirim pesanan dalam jumlah besar pada tahun 1950.

Dari tahun 1952 ketiganya mulai berjualan dengan menganyuh sepeda onthel menawarkan kopinya ke pabrik dan toko-toko disekitar daerah pabean samapi Wonokromo, Surabaya.

Usaha ini ternyata diminati oleh Putra Go Soe Loet, yaitu Soedomo Mergonoto, Indra Boedijono dan Soetikno Goenawan. Ketiganya rajin membantu ayahnya Go Soe Loet, dalam berjualan kopi dengan menggunakan Sepeda Onthel. Setiap hari ketiganya berkeliling kota untuk berjualan kopi. 

Ide menggunakan merk dagang Kapal Api ini karena seringnya Go Soe Loet dan dan putranya Soedomo berdagang kopi di daerah pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dan logo Kapal Api ini yang menjadi identitas khusus dan merk dagang setelah usaha ini dikembangkan oleh Soedomo Mergonoto, Putra Go Soe Loet dan Po Guan Cuan. Pada waktu itu perusahaan kopi dengan merk Hap Hoo Tjan sudah memiliki karyawan 1500 orang pegawai.

Pada tahun 1962 Kongsi Hap Hoo Tjan pecah dan asetnya dibagi 3. Goe Soe Loet mendapat bagian pabrik penggorengan, kopi dan melanjutkan usaha penjualan kopi dengan dibantu oleh ketiga anaknya. Perusahaan ini bertahan hingga 1982.  Dan kemudian perusahaan Hap Hoo Tjan ini dinyatakan bangkrut.

Pada tanggal 7 Juni 1967, ketua Kabinet ampera, Jendral TNI Soeharto mengeluarkan instruksi Presidium Kabinet Ampera Nomor 37/U/IN/ 6/1967 tentang penyelesaian pokok permasalahan Cina dengan menutup sekolah asing untuk WNI sehingga pendidikan Soedomo Mergonoto di SMA Sim Cong, Ngaglik Surabaya, sehingga Soedomo hanya samapi kelas satu saja. 

Soedomo pada akhirnya melakukan terobosan baru dengan membeli mesin kopi yang lebih canggih untuk meningkatkan kapasitas produksi kopi, membuat promosi secara agresif, membuat kemasan dalam bentuk eceran, memperluas pabrik dan mendirikan kantor yang baru, memperbaiki manajemen perusahaan.

Saat itu Kapal Api hanya mempekerjakan 10 orang, dengan mesin lokal seharga 150 ribu rupiah dan mesin giling dengan harga 10 ribu rupiah. Suatu saat Soedomo kaget dengan tulisan di ensiklopedia kalau mesin kopi yang dipakai di Indonesia adalah mesin kopi buatan 1800-an. 

Pada tahun 1978, Soedomo menghampiri pameran mesin Interpack di Dusseldorf dan melihat mesin buatan Jerman seharga 130 juta rupiah. Karena ia masih belum punya uang, ia mengingat-ingat mesin tersebut dan membuat ulang. Mesin pun jadi dengan harga 4,5 juta rupiah. Meski secara fisik mirip, hasil produksinya tidak seperti mesin impiannya dan volumenya pun masih terbatas.

Soedomo kemudian mulai promosi dengan membuat iklan di TVRI, stasiun TV satu-satunya di Indonesia saat itu. Soedomo kemudian memilih Paimo, pelawak Srimulat sebagai bintang kapal api tahun 1978. Langkahnya waktu itu adalah grebekan dalam dunia pemasaran. Meski iklan TV  hanya satu tahun pengaruhnya sangatlah luar biasa. 

Dari urutan yang ke-7 daerah Jawa Timur menjadi urutan pertama.

Pada tahun 1980 Soedomo menghubungi pemasok mesin Indonesia Yaitu Lembaga Ikatan Indonesia Jerman. Dari sana Soedomo mendapatkan kontak PT. Erieska, agen mesin Jerman tersebut di Jakarta.  Soedomo hanya diberi syarat beri uang muka 20%, sisanya dicicil setiap 6 bulan selama 1,5 tahun. "Saya membernaikan diri mengambil kredit yang hanya 5 juta dari bank Bumi Daya" kata Soedomo. Dengan mesin baru dengan kapasitas melonjak dari 300kg per hari menjadi 500 kg perharinya.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan kualitas kemasan. Ia terinspirasi unilever tahun 1970 an yang memasarkan sabun lux dengan dibungkus dengan kemasan yang rapi, dijual eceran, dibayar tunai, dan harus antri untuk medapatkan barangnya. Sebuah cara yang sangat baik dibanding dengan cara jual kopinya dalam skal besar per karung, sering dicicil dan tidak ada antrian.

Kopi yang dijual denga 10 kg per kaleng, dijual dengan eceran dengan ditimbang dan dibungkus koran diubah dengan bingkisan plastik dengan ukuran 100g, 250 g, dan 500 gram.

Pada tahun 1981, Soedomo membeli tanah 1 hektar dijalan raya gilang, Sidorajo dan memindahkan pabrik Pabrik Santos Jaya Abadi. Sekarang total lahan produksinya 10 hektar. Pabriknya menempati areal 3 hektar dan kantornya menempati gedung berlantai 3. Berdiri diatas lahan 15 ×50 meter. PT. Santos Jaya Abadi juga banyak melahirkan minuman bermerk seperti ABC, GoodDay, Fressco,Ya!, Kapten, Excelso, dan Ceremix.