Krisis Nilai Kemanusiaan di Bumi Nusa Tenggara Timur

 Suarakarumput.com- Krisis nilai kemanusiaan menjadi persoalan yang saat ini melanda bumi Nusa Tenggara Timur. 

Mulai dari persoalan yang ringan hingga yang berat. Mulai dari adu mulut sampai dengan perkelahian, dari penganiayaan hingga pertumpahan darah karena pembunuhan.

Bukan siapa-siapa melainkan sesama saudara, bahkan dengan kerabat terdekat.

Persoalan-persoalan yang masih berumbi dan akan tumbuh subur seketika nanti akan berbuah.

Krisis nilai kemanusiaan sedang melanda bumi Flobamorata. Caci maki, penghinaan, perkelahian, penganiayaan, dan pembunuhan mengancam keberadaan manusia sebagai makhluk berakal budi dan makhluk sosial.

Mengapa manusia penghuni Bumi Flobamorata terjebak ke dalam krisis tersebut dan dimana letak akar permasalahannya?

Apakah pada dasarnya terletak pada kebutuhan yang mendasar manusia dan kebutuhan yang semu saja?

Apakah memang disebabkan oleh naluri material dan tuntutan-tuntutan materi?

Mari kita ulas ...

Ilustrasi Krisi Kemanusiaan

Walaupun, data-data menunjukan penurunan angka kejahatan di Nusa Tenggara Timur menurun dari 2016-2020, tidak menutup bahwa kejahatan tetap berumbi dan bertumbuh segar.

Dari laporan Badan Pusat Statistik  tindak kejahatan yang dilaporkan ke Polda Nusa Tenggara Timur terus menurun pada 5 tahun belakangan. 

Tahun 2016 jumlah tindak kejahatan yang dilaporkan di NTT sebanyak 8.554 kasus.

Jumlah tersebut menurun menjadi 8.529 kasus pada 2017.

Tindak kejahatan di NTT terus menurun pada tahun 2018, yakni 8.098 kasus, pada tahun setelahnya, yaitu 2019 jumlah kasus yang tercatat sebanyak 6.822.

Sementara jumlah kasus kejahatan di NTT tahun 2020 sebanyak 5.539 kasus. 

Dari data yang diperlihatkan tidak semua kejahatan diselesaikan aparat pada periode tersebut.

Jumlah kasus yang terselesaikan dengan baik jumlahnya fluktuasi.

Dilaporkan juga risiko penduduk terkena tindak kejahatan di NTT sebesar 101 per 100 ribu penduduk pada 2020. 

Jumlah itu naik, 34,7% dari tahun sebelumnya yang sebesar 75 per 100 ribu penduduk.

Ditahun 2021, persoalan terus terjadi yang dimana menyebabkan kasus kriminalitas semakin subur tumbuh di Bumi Flobamorata tercinta.

Berikut adalah sejumlah kasus kriminalitas tahu 2021:

1. Kasus pemerkosaan dan berakhir dengan pembunuhan terhadap dua gadis oleh pelaku Yustinus

2. Pembunuhan sadis terhadap ibu dan anak yanga dilakukan oleh Randi Bajideh. Pembunuhan yang menggemparkan masyarakat Kota Kupang dan Masyarakat NTT pada umumnya

3. Kasus pengniayaan dan pemerkosaan anak 17 tahun oleh OTK di Kabupaten Kupang

4. Pembunuhan terhadap Remigius petugas unit mobil sampah Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Kupang

5. Pembunuhan suami oleh istri di Kabupaten Timor Tengah Selatan

6. Dan masih banyak lagi kasus kemanusiaan yang lain yang telah terjadi di NTT.

Tindakan kejahatan yang terjadi melunturkan citra dan budaya yang melekat pada masyarakata NTT. Tindakan kejahatan mencoreng nilai kemanusiaan yang semata-mata terjadi kapan saja. 

Tindakan amoral selalu datang kapan saja. Saat kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan.

Tindakan kejahatan selalu punya cara untuk untuk hadir ditengah-tengah kehidupan.

Didukung kehadiran teknologi yang pesat, menghadirkan informasi dan perilaku yang mengganggu serta mencoreng citra budaya yang dipertahankan.

Perilaku dan budaya yang masuk turut andil dalam mempengaruhi pola pikir dan karakter.

Ditambah dengan nilai-nilai agama yang dari dulu dijaga kini tak mampu membendung kehadiran unsur yang lebih kuat yang datang dari budaya luar.

Lalu apa yang menjadi jalan keluar dari persoalan kekrisisan nilai kemanusiaan ini?

Apakah dibiarkan begitu saja dan terus terjadi?

Banyak cara yang bisa dilakukan. Mulai dari keluarga, lingkungan sosial, sekolah, peran pemimpin agama, dan pemerintah.

Begitu saja?

Tidak. Ada aksi yang harus diperjuangkan untuk tingkatkan nilai kemanusiaan. Perlu supremasi hukum dan penegakan hukum yang benar dan seadil-adilnya dibumi Nusa Tenggara Timur.***