Bacaan Injil dan Renungan Katolik Kamis 24 Februari 2022 -->

Header Menu

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Kamis 24 Februari 2022

Patris Trikora
Selasa, 22 Februari 2022

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Kamis 24 Februari 2022

Bacaan Pertama Yakobus 5:1-6 "Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!"

5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Kamis 24 Februari 2022

Markus 9:41-50 "Garam dan Hidup"

9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

9:42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.

9:43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;

9: 44 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)

9:45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;

9:46 (di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.)

9:47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,

9:48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.

9:49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.

9:50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

RENUNGAN KATOLIK

Pada Bacaan Pertama diatas kita telah mendengarkan Peringatan dan Kecaman Yakobus kepada Orang-orang Kaya. Ada hal yang menarik yang perlu kita renungkan bersama yaitu : Salahkah kita jika memnjadi kaya?

Penulis rasa tidak ada seorangpun di antara kita yang tidak ingin menjadi orang yang kaya, sukses dan berhasil. Kita, ketahui bersama bahwa tidak ada buku di toko buku yang mengajarkan dan mengajak pembacanya untuk menjadi miskin dan gagal. 

Semua orang ingin kaya, bahkan beberapa orang rela melakukan apa saja demi menjadi kaya. Mereka mencuri, merampok, melakukan korupsi agar menjadi kaya, bahkan ada juga yang sampai meminta kekayaan dari Iblis dengan mendatangi tempat-tempat pesugihan, dukun-dukun dan lain-lain.

Perlu kita ketahui bahwa Alkitab sendiri tidak melarang anak-anak Tuhan menjadi kaya, tetapi Alkitab memberi peringatan kepada orang-orang kaya, yang salah satunya akan kita pelajari pada hari ini.

Saat membaca Bacaan Pertama pada hari ini, muncul sebuah pertanyaan yang membuat penulis secara pribadi tertegun, mengapa sampai Tuhan melalui Yakobus yang menulis kitab ini mengatakan kepada orang kaya untuk menangis dan meratap atas sengsara yang akan menimpa mereka (ayat 1)? 

Apakah menjadi orang kaya adalah sesuatu dosa di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak. Tuhan tentu juga ingin memberkati kita dan membuat kita berhasil. Tetapi yang Tuhan tidak sukai adalah ketika orang kaya tersebut lebih terfokus kepada kekayaannya daripada Tuhan. Orang-orang yang seperti itu, kekayaannya sudah busuk (ayat 2), dan bahkan emas dan perak yang dikumpulkannya pun akan menjadi berkarat (ayat 3). Orang-orang yang seperti ini tentu lebih memilih mengumpulkan harta di dunia daripada mengumpulkan harta di surga (Mat 6:19-20).

Terlebih lagi, Yakobus mengecam orang-orang kaya yang menjadi kaya dengan menginjak-injak orang lain, termasuk orang-orang di bawahnya dan orang-orang miskin. Mereka menahan upah dari buruh-buruh yang bekerja pada mereka (ayat 4).

Jika ditarik ke konteks saat ini, mungkin saja mereka memberikan upah yang tidak memadai atau dibawah standar kepada para pekerja mereka. Tentunya orang yang dibayar dengan tidak memadai akan berkata negatif kepada orang yang mempekerjakan mereka bukan? Tuhan berkata bahwa Tuhan mendengar setiap keluhan orang-orang yang ditindas, diperas, dan orang-orang yang dibayar dengan tidak pantas, dan orang-orang yang ditahan upahnya.

Yakobus juga mengecam orang-orang kaya yang berfoya-foya di tengah kondisi orang lain yang memprihatinkan (ayat 5). Kita patut memperhatikan hal ini, terutama kondisi di bangsa ini yang saat ini sedang mengalami kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung hilang. Ditengah situasi seperti ini kita sering melihat ada orang-orang kaya yang menghabiskan uang ataupun hartanya dengan marukh, namun tidak pernah membantu orang-orang miskin yang ada di sekitarnya.

Ingatlah akan cerita tentang orang kaya yang berpakaian serba ungu dan Lazarus, sang pengemis dalam Alkitab, bagaimana pada hari penghakiman, orang kaya tersebut akhirnya masuk ke dalam neraka karena ia hidup berfoya-foya tanpa memperhatikan orang-orang miskin di sekitarnya (Lukas 16:19-31).

Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya, yang salah adalah ketika hati kita terfokus pada kekayaan itu sendiri dan bukan kepada Tuhan yang memberikan kekayaan kepada kita. Mungkin saja kita pun tetap beribadah kepada Tuhan, tetapi hati kita lebih terfokus kepada berkat-berkat dari Tuhan dan bukan kepada Tuhan yang memberi berkat tersebut.

Alkitab mengatakan bahwa di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada (Lukas 12:34). Oleh karena itu, jika Tuhan memberkati kita sehingga kita menjadi orang yang kaya dan berhasil, kita juga perlu menempatkan kekayaan kita itu dalam kerajaan surga, sehingga hati kita pun tetap terfokus kepada hal-hal yang surgawi dan bukan hal-hal duniawi. Jadilah orang kaya di dunia, dan juga orang kaya di surga. Muliakanlah Tuhan dengan harta kita dan kekayaan kita (Amsal 3:9a).

Pada Bacaan Injil Hari ini juga Yesus mengajarkan kita tentang "Garam dan Hidup."

"Garam memang baik. Tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kalian akan mengasingkannya? Hendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain." (Markus 9: 50).

Betapa pentingnya garam dalam hidup manusia. Selain sebagai penyedap dengan rasa asin sebagai karakteristiknya, juga sebagai pengawet alamiah.

Garam dikatakan baik bila masih tetap memiliki rasa asin. Manakala garam telah hambar rasanya, fungsi dan hakekatnya hilang.

Manusia diciptakan Allah dengan bakat dan kemampuan tertentu. Diharapkan manusia yang dilengkapi hati nurani dan akal budi mampu mengenal kehendak Allah dan hidup menurut tuntunan-Nya.

Dalam kenyataan manusia yang memilki kehendak bebas bertindak menyimpang dari kehendak Allah.

Nilai-nilai Kerajaan Allah diabaikan dengan pikiran dan tindakannya sendiri yang selain merugikan diri sendiri juga merusak relasi personal dengan sesama dan Tuhan.

Manusia jatuh dalam dosa. Dan dalam keadaan demikian manusia terjebak dalam penderitaan bathin yang menghambat pertumbuhan dan pengembangan diri ke arah kebaikan dan harmonitas.

Seperti garam yang selalu asin dan berdayaguna dalam kehidupan, demikian pun manusia hendaknya menjaga jati dirinya sebagai pribadi beriman dengan karakter-karakter Kristiani yang hidupnya dapat menjadi contoh bagi yang lain.

Sebagai manusia terbatas kita diajak untuk selalu berkaca dan mengintrospeksi diri dalam hidup sosial kemasyarakatan agar kehadiran kita berdampak dan berbuahkan kebaikan bagi hidup banyak orang.

Semangat berubah dan bertobat dari yang salah dapat menjadi kekuatan baru menuju capaian hidup yang lebih manusiawi, damai dan bahagia.

Marilah berusaha untuk selalu hidup baru dalam terang perubahan ke arah hidup yang lebih baik, benar dan berdampak.

Hidup adalah kesempatan untuk mengekspresikan bakat dan segala kemampuan untuk memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Seperti garam yang selalu asin dan berdayaguna bagi hidup manusia, demikian pun hidup kita semoga selalu berguna dan berdampak bagi banyak orang.

DOA RENUNGAN KATOLIK

Ya Tuhan pakailah hidup dan diri kami sebagai sarana untuk menghadirkan berkat dan kebaikan bagi sesama. Jangan biarkan kami terlena dengan harta duniawi sehingga kami berpaling dari -Mu.

Demi nama-Mu yang Kudus kini dan sepanjang masa, Amin.

Demikian Bacaan Injil dan Renungan Katolik Kamis 24 Februari 2022. Kiranya kita semua bisa menjadi garam dan terang bagi sesama. Semoga***