Bacaan Injil dan Renungan Katolik Senin 14 Februari 2022 -->

Header Menu

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Senin 14 Februari 2022

Patris Trikora
Sabtu, 12 Februari 2022

Suaraakarrumput.com--Berikut Bacaan Injil dan Renungan Katolik Senin 14 Februari 2022

Bacaan Pertama Yakobus 1:1-11 "Ujian iman menghasilkan ketekunan, dan ketekunan yang matang menjadikan mu sempurna"

1:1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.

1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, ?yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit?,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,

1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.

1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Senin 14 Februari 2022

Bacaan Injil Markus 8:11-13 "Mengapa angkatan ini meminta tanda?"

8:11 Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga.

8:12 Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."

8:13 Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang.

RENUNGAN KATOLIK

Dalam Bacaan Injil hari ini kita melihat bagaimana orang-orang Farisi muncul kembali sebagai penentang (ayat 11-13). Mereka ingin meminta tanda, baru mau percaya bahwa Yesus mempunyai otoritas kenabian. Sebaliknya, orang-orang percaya dulu, baru melihat mukjizat. Tanda yang diminta orang-orang Farisi kemungkinan bukan mukjizat, tetapi suatu nubuat yang perlu digenapi dalam waktu dekat.

Mengapa Yesus keberatan memberikan tanda yang diminta orang-orang Farisi, padahal Ia sering melakukan mukjizat? Orang-orang Farisi memang bukan meminta Yesus melakukan mukjizat, seperti yang pernah Dia lakukan sebelumnya. Mereka meminta Dia melakukan suatu tanda yang dramatis, sesuatu yang mungkin terlihat langsung turun dari langit.

Meski demikian, permintaan ini tidak memperlihatkan keinginan mereka untuk beriman pada Yesus. Apalagi sebelumnya mereka pernah menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari setan (Mrk. 3:22). Ini merupakan penolakan terhadap kemesiasan Yesus. Jadi apapun yang Yesus lakukan tidak akan membuat mereka mau percaya.

Yesus menolak melakukan tanda yang diminta orang Farisi karena tujuan-Nya melakukan mukjizat bukan untuk meyakinkan orang yang memang keras hati dan menolak percaya. Yesus melakukan mukjizat untuk menyatakan kuasa dan kasih karunia Allah. Itulah sebabnya Yesus kemudian memperingatkan para murid untuk tidak bersikap seperti orang Farisi.

Dalam peringatan itu, Yesus menggunakan kata ragi. Terkadang orang Yahudi memakai kata ragi untuk menggambarkan dosa atau kecenderungan hati yang jahat. Kecenderungan hati yang jahat sinonim dengan kedegilan hati (ayat 17).

Hati yang degil adalah penyakit orang-orang yang merasa diri religius atau saleh. Namun para murid salah mengerti. Mereka mengira bahwa Yesus berbicara tentang makanan. Ternyata para murid pun mirip orang yang belum kenal Tuhan, meski mereka telah belajar banyak hal dari Yesus.

Dari Bacaan Injil diatas dapat kita kaitkan dengan kehidupan kita saat ini. Pada zaman sekarang,  perkemnangan IPTEK yang begitu canggih dan cepat tentunya untuk menunjukan sesuatu harus dibuktikan keilmiahannya. Butuh bukti. Kenyataan seperti ini kita jumpai pula dalam Injil hari ini.

Orang Farisi mencobai Yesus dengan meminta tanda dari surga, agar dapat membuktikan bahwa apa yang diajarkan dan diperbuat oleh Yesus merupakan suatu kebenaran. Yesus merasa heran dan pergi meninggalkan mereka. Ia tidak melakukan suatu tanda pun.

Apa maksud tindakan Yesus ini? Yesus memilih pergi meninggalkan mereka yang meminta tanda. Ia melihat bahwa pertanyaan orang-orang Farisi mengandung unsur kesombongan. Mereka bertanya hanya untuk mencobai Dia.

Sekalipun tanda surgawi sehebat apa pun mereka juga takkan percaya, karena sikap tinggi hati yang menyelimuti mereka. Jika kita mengamati dari semua mukjizat atau tanda-tanda surgawi yang diperbuat oleh Yesus, mereka yang rendah hati dan penuh imanlah yang percaya dan menerimanya. Ia jarang sekali mengerjakan mukjizat kepada orang yang tinggi hatinya.

Sikap Yesus ini ditegaskan lagi oleh Yakobus dalam suratnya kepada kedua belas suku di perantauan (Bacaan Pertama). Yakobus meminta agar mereka dengan rendah hati dan penuh iman meminta hikmat dari Tuhan. Hendaknya mereka jangan menjadi tinggi hatinya di hadapan Tuhan, karena orang yang demikian, tidak akan mendapat apa yang dimintanya. Mereka yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Dalam kenyataan hidup, kita sering berdoa untuk meminta berkat dan campur tangan Tuhan. Terkadang jika doa kita tidak terkabulkan, maka kita sering meminta dengan paksa agar Tuhan sudi mengabulkannya.

Sadarkah kita bahwa, doa seperti itu telah memaksakan kehendak Allah? Kita berdoa tetapi tidak mengimani apa yang kita doakan. Kita berdoa dengan motivasi memperoleh tanda dari surga. Motivasi seperti ini terkadang membawa kita pada sikap tinggi hati.

Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk semakin rendah hati dalam berdoa. Berdoa karena kita adalah anak-anak Allah. Berdoa dengan benar, dan tidak mendasarkan doa kita atas berbagai kemauan yang muluk-muluk.

Sebagai orang beriman, hendaklah kita mengimani apa yang kita doakan. Percayalah! Bapamu yang di surga tahu apa yang engkau perlukan. Doa orang benar yang disampaikan dengan rendah hati didengar oleh Tuhan.

DOA RENUNGAN KATOLIK

Ya Allah yang Maha Kudus, jauhkanlah kami dari pikiran untuk mencobai-Mu dan ampunilah kami atas kesombongan kami. Semoga Roh-Mu membuka hati kami agar kami mampu melihat dan meraskan kehadiran-Mu dalam hidup kami.

Karena engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami, kini dan sepanjang masa, Amin.

Demikian Bacaan Injil dan Renungan Katolik Senin 14 Februari 2022. Kiranya kita senantiasa rendah hati dan tidak menyombongkan diri terhadap sesama, terutama kepada Tuhan. Sehingga berkat-Nya selalu melimpah atas kita. Semoga***