Bacaan Injil dan Renungan Katolik Minggu 6 Februari 2022 -->

Header Menu

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Minggu 6 Februari 2022

Patris Trikora
Jumat, 04 Februari 2022

Suaraakarrumput.com--Berikut Bacaan Injil dan Renungan Katolik Minggu 6 Februari 2022 

Bacaan Pertama Yesaya 6:1-2a,3-8 "Inilah aku, utuslah aku!"

6:1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.

6:2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.

6:3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"

6:4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. 

6:5 Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

6:6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.

6:7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."

6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"

Bacaan Kedua 1 Korintus 15:1-11 “Begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kamu mengimani.”

15:1Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.

15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu?kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;

15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.

15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.

15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Minggu 6 Februari 2022

Bacaan Injil Lukas 5:1-11 “Mereka meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti Yesus.”

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.

5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.

5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 

5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."

5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

RENUNGAN KATOLIK

Pada Bacaan Pertama diatas tadi hal menarik yang perlu kita renungkan bersama adalah "Dikuduskan untuk melayani".

Kesadaran apa yang perlu dimiliki seorang hamba Tuhan agar pelayanannya berkenan kepada Tuhan? Yaitu kesadaran akan siapa dirinya dan siapa Tuhan yang dia layani.

Pemberitaan Yesaya yang dipaparkan di pasal-pasal sebelumnya merupakan ringkasan dari berita utama kitab ini, yaitu Allah yang kudus harus menghukum bangsa yang tidak kudus, sebelum pengampunan dan pemulihan atas mereka diberlakukan. Karena itu pasal 6 ini sangat penting.

1. Yesaya perlu mengenal siapa Allah yang memanggil dia, sehingga sifat urgensi dari pelayanannya menjadi nyata. Allah adalah Allah yang kudus, yang tidak dapat membiarkan ketidakkudusan merajalela.

Hanya dengan menyadari kekudusan Allah, berita Yesaya menjadi sangat serius dan tidak main-main. Allah akan membinasakan umat yang tidak kudus. Hanya oleh belas kasih-Nya, sejumlah kecil umat ditinggalkan untuk kelak menjadi cikal bakal bangsa yang kudus, yang tidak lagi bermain-main dalam dosa.

2. Yesaya perlu menyadari siapa dirinya yang menerima panggilan mulia, agar dia dapat menjalankan tugasnya dengan benar. Hanya dengan mengenal kekudusan Allah, Yesaya menyadari kenajisan dirinya. Hanya dengan dikuduskan oleh Allah, Yesaya dilayakkan untuk melayani Dia. 

Dengan kesadaran bahwa kekudusan dirinya semata-mata anugerah, Yesaya tidak menjadi sombong melainkan sepenuhnya bersandar pada kekuatan Allah untuk menyampaikan firman kepada umat-Nya. Maka meskipun berita itu tidak disambut dengan pertobatan massal, Yesaya tidak berkecil hati. Karena respons pertobatan pun merupakan anugerah Allah atas umat yang tidak layak.

Hamba Tuhan hanya mungkin menjalankan pelayanannya dengan efektif kalau ia memelihara persekutuan yang intim dengan Tuhan. Hanya lewat cara itulah, ia menjaga kekudusan diri dan menjaga keseriusan pemberitaan firman Tuhan, tanpa sedikit pun dan sekali pun berkompromi dengan tujuan untuk menyenangkan manusia semata.

Selain itu, Paulus dalam Bacaan Kedua mengajarkan tentang, "Inti pemberitaan Injil".

Paulus menganggap penting untuk mengingatkan kembali jemaat Korintus akan Injil yang telah diberitakannya. Jemaat Korintus telah menerima Injil dan hidup di dalamnya. Karena itu tak dapat disangkal bahwa jemaat Korintus telah menerima keselamatan (ayat 1). Namun ada catatan penting yang bukan hanya harus selalu diingat dan dipegang tetapi juga ditambahkan kepada pengetahuan mereka tentang injil (ayat 2).

Pertama, Injil harus dipahami sebagai suatu kesatuan berita tentang kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Paulus menekankan bahwa kematian dan kebangkitan-Nya adalah rangkaian peristiwa yang menjadi inti Injil. Ia mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai Kitab Suci (ayat 3,4; bdk. Yes. 53:4-6,8,11-12; Hos. 6:2; Yun. 1:17).

Fakta kebangkitan-Nya, sebagaimana kesaksian saksi mata, antara lain: Kefas, kedua belas murid, lebih dari lima ratus saudara, Yakobus, semua rasul dan yang paling akhir Paulus sendiri (ayat 5-8), menggagalkan keraguan beberapa orang terhadap kebangkitan orang mati.

Kedua, Injil harus menjadi motivasi pembawa berita. Paulus telah dipilih sebagai saksi kebangkitan Yesus dan dipanggil menjadi rasul meskipun ia menganggap dirinya rasul yang paling hina karena ia menganiaya jemaat Allah (ayat 9). Namun, ia menganggap kasih karunia Allah yang telah dianugerahkan kepadanya, yaitu Injil keselamatan menjadi motivasi kuat untuk bekerja lebih keras dari rasul yang lain (ayat 10-11).

Hendaknya gereja tidak melupakan fondasi yang mengokohkannya yaitu Injil Yesus Kristus karena gereja ada karena pemberitaan Injil disambut dalam iman. Bila hal yang sangat penting ini dilupakan, gereja dan kehidupan Kristen kita terancam bahaya.

Dengan demikian perlu kita renungkan bahwa Oleh Injil kita diselamatkan. Oleh Injil kita mengetahui bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah melepaskan kita dari kuasa dosa dan dari murka Allah.

Kemudian juga pada Bacaan Injil suci hari ini, kita diarahkan pada suatu refleksi iman tentang bagaimana kita "Mengenal pribadi Yesus".

“Bagaimana mungkin seorang tukang kayu mengajari seorang nelayan tentang cara menangkap ikan?” Mungkin begitulah gambaran pikiran Petrus saat Yesus menyuruh dia menangkap ikan. Sementara ia dan teman-temannya telah sepanjang malam bekerja keras tanpa hasil (ayat 5).

Petrus, mewakili kebanyakan orang, keliru memahami Yesus. Yesus pada awal-awal pelayanan menyatakan ke-Mesias-an-Nya bukan hanya dengan pernyataan diri (4:16-21), melainkan juga dengan pengajaran dan karya-karya-Nya.

Sebelum peristiwa dalam perikop ini, beberapa pelayanan Yesus sudah menyatakan bahwa Ia lebih daripada manusia biasa: roh jahat diusir (4:31-37) dan orang sakit disembuhkan (4:38-41). Yesus juga bukan sekadar guru agung atau pembuat mukjizat yang populer. Yesus adalah Tuhan atas alam ini! Lalu sikap sok tahu Petrus berubah menjadi rasa malu dan gentar ketika melihat Yesus berdaulat atas ikan di laut Genesaret (ayat 8).

Berhadapan dengan Yesus dan mengalami kuasa-Nya membuat Petrus menyadari keberadaan dirinya yang berdosa. Suatu sikap yang Yesus inginkan ada dalam diri orang yang akan Dia panggil menjadi hamba-Nya. Maka kisah penangkapan ikan berlanjut menjadi kisah "penangkapan" Petrus oleh Yesus. Sejak saat itu, Petrus akan menebarkan jalanya di laut yang berbeda, yakni lautan manusia yang membutuhkan Kristus.

Betapa luar biasa anugerah Allah yang mengubah orang berdosa menjadi hamba-Nya. Kita pun dapat mengalami anugerah itu dalam hidup kita, bila kita menyadari keberdosaan kita dan betapa kita memerlukan pertolongan Kristus.

Hanya Yesus yang sanggup mentransformasi hidup kita, dari kepapaan rohani yang terbungkus kesombongan dan kepicikan, menjadi pengikut yang dapat dipakai-Nya memenangkan jiwa sesama kita.

DOA RENUNGAN KATOLIK

Terima kasih Tuhan karena Engkau lebih mengenal kami daripada kami mengenal diri kami sendiri. Bentuklah kami seturut maksud-Mu yang mulia.

Roh Kudus Allah, tolonglah kami untuk memandang Yesus tidak hanya sebagai seorang Guru yang pantas dihormati, melainkan teristimewa sebagai pencipta langit dan bumi, yang pantas kami percayai, kasihi dan taati perintah-perintah-Nya.

Tanamkanlah pengetahuan ini ke dalam hati kami masing-masing agar kami senantiasa selalu mengutamakan Engkau dalam segala pergumulan hidup kami, Amin.

Demikian Bacaan Injil dan Renungan Katolik Minggu 6 Februari 2022. Kiranya kita semua semakin bertumbuh dalam Iman dan kepercayaan kita akan Dia. Serta mampu memancarkan kasih dan kebenaran bagi sesama. Semoga***