Renungan Harian Katolik dan Bacaan Injil Hari Ini Minggu 27 Maret 2022 -->

Header Menu

Renungan Harian Katolik dan Bacaan Injil Hari Ini Minggu 27 Maret 2022

Patris Trikora
Jumat, 25 Maret 2022

Renungan Harian Katolik dan Bacaan Injil Hari Ini Minggu 27 Maret 2022

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari ini Minggu 27 Maret 2022
Perumpamaan Tentang Anak yang Hilang

BACAAN PERTAMA YOSUA 5:9; 10-12 "Hari ini telah Ku hapuskan cela Mesir itu dari padamu."

Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Ku hapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang.

Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho.

Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga.

Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.

BACAAN KEDUA 2 KORINTUS 5:19-21 "Supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah."

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

BACAAN INJIL LUKAS 15:1-3.11-32 "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa"

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu.

Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. 

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya:

Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

Sebab anak ku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.

Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.

Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.

Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

RENUNGAN HARIAN KATOLIK HARI INI MINGGU 27 MARET 2022

Saudara terkasih dalam Kristus Bacaan Injil hari ini mengisahkan  tentang Si anak bungsu yang telah pergi menghabiskan segala harta milik yang diberikan oleh bapanya. Ia hidup berfoya-foya hingga habislah segala miliknya. Ia melarat hingga hampir mati.

Kitab suci mencatat, bahkan ampas untuk makanan babi pun tidak ia peroleh untuk dimakan. Sadar akan keadaannya yang begitu berdosa terhadap surga dan bapanya, timbullah niat untuk pulang dan bertobat. Memang, pertobatan itu berawal dari kesadaran bahwa kita ini orang berdosa.

Si anak bungsu bangkit dari kejatuhannya. Ia pulang ke rumah dan telah siap menerima segala risiko dari bapanya. Bahkan, ia telah siap untuk dijadikan sebagai orang upahan oleh bapanya sendiri. 

Semua rancangan itu telah ia persiapkan. Namun, ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, dan tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Tidak cukup hanya tergerak, ayah itu bahkan berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Perhatikan kata-kata yang digunakan: berlari, merangkul, mencium. Betapa hangat penerimaan bapa kepada anaknya yang pulang itu.

Belum lagi si anak selesai mengucapkan kata-kata penyesalan yang sudah dirancangnya, ayah itu langsung menyuruh hamba-hambanya untuk mengambil dan memakaikan jubah yang terbaik, mengenakan cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya, mengambil lembu tambun.

Lalu mereka makan dan bersukacita. Betapa gembira bapa itu atas pulangnya anaknya yang telah berdosa itu.

Di tengah kemeriahan pesta, si anak sulung protes atas perlakuan ayahnya yang dianggap tidak adil.

Dia telah bertahun-tahun melayani bapanya dan tidak pernah melanggar perintahnya, tetapi tidak pernah diberikan seekor kambing pun.

Namun, ketika adiknya yang telah memboroskan harta dengan pelacur-pelacur itu pulang, bapanya menyembelih lembu tambun. Jauh di sana, di dasar hatinya, iri hati itu menggelayut.

Dia merasa dirinya benar, tetapi tidak diberi imbalan yang pantas. Dia merasa orang lain salah, tetapi diberi imbalan yang tidak sepantasnya.

Akhirnya dia berpikir bahwa bapanya tidak adil. Mungkin juga jauh di sana, di dalam diri kita, sikap si anak sulung itu menggelayut.

Kita merasa diri benar, sehingga tidak perlu bertobat, tidak perlu pulang. Kita merasa iri karena berkat yang diterima sesama kita.

Dengan demikian marilah kita Pulang! Kita harus selalu pulang ke rumah. Dan rumah yang sejati dan kekal itu ialah Tuhan sendiri. Pulang berarti bertobat.

Pertobatan itu dimulai dari penyesalan akan dosa-dosa, pengakuan akan kerapuhan diri kita, seperti yang dilakukan si anak bungsu itu.

Karena itu, saat kita pulang kepada-Nya, saat kita bertobat terus-menerus, Ia pun akan berlari menyambut, merangkul dan mencium kita.

Semuanya terjadi karena Bapa kita yang murah hati. Ia selalu tergerak oleh belas kasihan melihat orang yang pulang dan bertobat.

DOA RENUNGAN HARIAN KATOLIK HARI INI

Bapa surgawi Kami bersyukur kepada-Mu karena memperlakukan kami sebagai anak-anak-Mu terkasih, karena kami dapat diam bersama-Mu untuk selama-lamanya, juga karena Dikau telah memberikan segalanya kepada kami. Ampunilah kami ya Tuhan, sebab kami orang berdosa.

Demi nama-Mu yang Kudus kini dan sepanjang masa, Amin.

Demikian Renungan Harian Katolik dan Bacaan Injil Hari Ini Minggu 27 Maret 2022. Kiranya setelah mendengarkan firman Tuhan hari ini kita semakin sadar akan makna pertobatan yang sesungguhnya serta kita mampu merubah diri dan melepaskan segala belenggu dosa sehingga kita dapat memulai hidup yang baru bersama Kristus. Semoga***