Khotbah Katolik Hari Raya Kenaikan Tuhan Kamis 26 Mei 2022 -->

Header Menu

Khotbah Katolik Hari Raya Kenaikan Tuhan Kamis 26 Mei 2022

Patris Trikora
Rabu, 25 Mei 2022

Khotbah Katolik Hari Raya Kenaikan Tuhan Kamis 26 Mei 2022


Khotbah Katolik Hari Raya Kenaikan Tuhan 2022



Bacaan: Kis 1: 1-11; Ef 1: 17-23; Luk 24: 46-53

Khotbah Katolik Hari Raya Kenaikan Tuhan 2022


BERTOBAT UNTUK NAIK KE SURGA


Pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Kenaikan Tuhan menegaskan bahwa Tuhan Yesus tidak tinggal tetap atau diam terus di dunia ini.

Dunia ini hanya merupakan tempat sementara bagi Dia untuk hidup dan berkarya bagi keselamatan manusia.

Tetapi sesudah Ia hidup dan berkarya sampai mati di dunia ini, Ia kemudian bangkit dari antara orang mati, lalu Ia kembali ke surga, tempat asal dan tujuan hidup-Nya.

Tuhan Yesus naik ke surga untuk tinggal bersatu lagi dengan Allah Bapa-Nya. Gerakan naik atau kembali ke surga bukan sebuah pilihan bagi Tuhan, tetapi itu merupakan suatu kewajiban, karena “Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah” (Yoh 13: 3).

Kalau Ia berasal dari dunia ini, tentu Tuhan Yesus akan tinggal terus di dunia ini. Tetapi karena Ia berasal dari Allah di surga, otomatis Dia kembali ke surga tempat tinggal Allah Bapa-Nya itu.

Semua orang yang percaya akan Yesus, termasuk kita, akan mengikuti perjalanan hidup Yesus, yaitu naik ke surga.

Pertanyaannya, apa yang mesti kita lakukan untuk mengikuti Yesus? Apakah kita cukup percaya saja kepada-Nya? Ataukah selain percaya, kita masih harus melakukan sesuatu?

Sebagai Mesias, Tuhan Yesus sudah “menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga”.

Akan tetapi sesudah itu “dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk 24: 46-47).

Sebelum menjadi sebuah pewartaan kepada orang lain, pertobatan dan pengampunan dosa mesti menjadi pengalaman pribadi.

Dalam bingkai pemahaman ini, kita hanya dapat mengikuti Tuhan Yesus untuk naik ke surga, bila kita bertobat dari dosa kita dan menerima pengampunan dari Tuhan.

Dosa berarti melanggar cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama. Manusia mesti mencintai Tuhan dan sesama.

Akan tetapi dalam kenyataannya, manusia tidak sungguh-sungguh menunjukkan cinta dan perhatiannya kepada Tuhan dan sesama.

Manusia lebih fokus pada dirinya sendiri lebih darpada fokus pada Tuhan dan sesama. Akibatnya, hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama menjadi putus.

Manusia tidak mencintai Tuhan dan sesama, karena manusia terlalu mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain, sehingga manusia menjauhkan dirinya dari cinta akan Tuhan dan orang lain.

Dalam bahasa analogi, cinta itu dapat diibaratkan dengan sebuah tangga. Tangga cinta adalah tempat turun-Nya Tuhan dari sorga untuk menjumpai manusia di bumi.

Sekaligus tangga cinta itu adalah tempat naiknya manusia dari bumi untuk bertemu dengan Tuhan.di surga.

Akan tetapi karena dosa, tangga cinta itu menjadi patah atau putus. Dengan demikian manusia tidak bisa lagi naik ke tempat lain untuk bertemu dengan Tuhan dan Tuhan juga tidak bisa lagi turun untuk menemui manusia.

Hanya apabila manusia bertobat dari dosa atau kejahatannya dan menerima pengampunan dari Tuhan, tangga cinta itu dapat dibangun kembali.

Karena itu, hendaklah kita bertobat dengan berhenti mencintai diri secara berlebihan agar kita masih tetap dapat mencintai Tuhan dan orang lain.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22: 37-40).

Kita tidak berdosa dan pasti berhenti untuk berbuat dosa, apabila Tuhan tetap berada pada urutan pertama cinta kita. Tuhan adalah Pencipta kita.

Dengan mencintai Dia kita dapat mencintai atau mengasihi sesama. Dengan mencintai atau mengasihi sesama, kita dapat mencintai atau mengasihi diri sendiri.

Cinta yang benar atau kasih yang sejati bergerak keluar kepada orang lain lebih dahulu baru bergerak ke dalam.

Istrinya Nasrudin amat sangat cantik luarbiasa. Karena itu banyak sekali laki-laki penggoda. Setiap kali pulang dari pasar, istrinya menangis karena digodai oleh laki-laki.

Nasrudin lalu putar otak untuk memikirkan bagaimana mengatasi godaan terhadap istrinya. Nasrudin lalu pergi ke pasar dan membeli ubi-ubian dan pewarna makanan.

Aneka ubi itu dimasak dan diberi warna-warni yang indah. Sesudah itu, semua laki-laki penggoda istrinya diundang untuk makan di rumahnya.

Para lelaki itu amat senang bukan saja karena makanan, tetapi agar mereka dapat melihat istrinya yang begitu cantik.

Anehnya, semua para lelaki itu sepakat bahwa rasa masakan sama, padahal warnanya berbeda-beda. Maka Nasrudin lalu berkata: “Saya undang kalian semua, untuk merasakan ubi yang warnanya berbeda-beda. Ternyata enaknya sama saja.

Istri kita manusia meski fisiknya berbeda-beda, tetapi rasa enaknya sama saja, yaitu sama-sama perempuan.”Semua tamu itu tertawa lepas

{Jurnalis - Tim Okezone, Supaya Istrinya Tidak Diganggu, Abu Nawas Ajak Para Lelaki Makan Ubi, Apa Hubunganya?, Internet: muslim.okezone.com, Garut, 17 Mei 2022}.

Segala sesuatu yang tampak di mata kita bermacam-macam dan berbeda-beda, tidak ada yang sama. Manusia juga berbeda-beda, baik laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada yang sama tampilan luarnya atau fisiknya. Meskipun tampilan luarnya atau fisiknya berbeda-beda, namun semuanya sama saja isinya, yaitu sama-sama lelaki dan sama-sama perempuan.

Cinta yang benar dan kasih yang sejati bukan terutama melihat perbedaan-perbedaan tampilan fisik manusia. Tampilan fisik yang berbeda-beda hanyalah image atau cashing luar dari diri manusia, tetapi inti terdalam dari hakekat manusia adalah martabatnya yang luhur dan mulia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang terindah di dunia.

Maka kalau kita mencintai Tuhan, hendaklah kita mencintai orang lain menurut harkat dan martabatnya yang luhur dan mulia.

Kita mencintai sesama secara benar, apabila kita mengasihi setiap orang dalam keunikan dan keistimewaanya sebagai gambar dan rupa Tuhan dan bukan sebagai objek pemuas dorongan hawa nafsu atau keinginan ‘rasa’ manusia.

Dengan mencintai orang lain secara benar, kita dapat mencintai diri kita secara baik dan benar pula. Di atas cinta terhadap sesama dan cinta diri sendiri, kita mesti mencintai Tuhan sebagai yang pertama dan terutama.

Dengan mencintai Tuhan secara benar sebagai yang pertama dan terutama, kita juga dapat mencintai secara benar orang lain dan diri kita sendiri. Inilah anak tangga cinta yang benar bagi kita untuk naik ke surga mengikuti Tuhan Yesus.

Melalui anak tangga cinta yang sama Tuhan juga turun ke dunia untuk membawa kita naik ke surga sesuai dengan kata-kata-Nya sendiri. “Apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14: 3).

Berada bersama Tuhan di dunia dan terlebih di surga adalah dasar da tujuan praktek cinta yang benar dan kasih yang sejati dalam hidup di dunia ini.

Doaku dan berkat Tuhan

Mgr Hubertus Leteng.