Renungan Harian Katolik Jumat 6 Mei 2022 -->

Header Menu

Renungan Harian Katolik Jumat 6 Mei 2022

Patris Trikora
Kamis, 05 Mei 2022

Renungan Harian Katolik Jumat 6 Mei 2022 Pekan III Paskah


Renungan Harian Katolik Jumat 6 Mei 2022 Pekan III Paskah


Bacaan: Kisah Para Rasul 9: 1-20; Yohanes 6: 52-59

PERANCANG KEJAHATAN DI MATA TUHAN


Di dunia ini tidak semua orang senang dengan kita sebagaimana kita juga tidak mungkin menyenangkan semua orang. Bila kita tidak senang dan tidak puas kita bisa merancang kejahatan.

Rancangan kejahatan itu berjalan sembunyi-sembunyi dan diam-diam, tidak ada seorang pun yang tahu. Selama tidak ada orang yang tahu, mungkin kita merasa aman-aman dan nyaman-nyaman saja.

Akan tetapi setiap niat dan rancangan kejahatan tetap menciptakan kegelisahan, kecemasan dan ketakutan dalam hati manusia.

Pada umumnya, tidak ada kedamaian, ketenangan dan kenyamanan, kegembiraan dan sukacita dalam hati orang yang berniat jahat.

Meskipun di mata manusia, niat dan rancangan kejahatan bisa rahasia dan tersembunyi atau disembunyikan, namun di mata Tuhan pasti tidak ada yang tersembunyi.

Sesungguhnya “tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan (Tuhan), sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr 4: 13).

Manusia bisa saja bersembunyi di balik topeng, topi ninja, kacamata gelap dan pakaian mewah dengan jas lengkap serta dasi melintang di dada.

Tetapi kalau niat dan rancangan jahat ada di dalam hati dan pikiran seseorang, tetap ia cemas, gelisah dan takut karena merasa dikejar-kejar oleh niat dan rancangan kejahatan yang ia ciptakan sendiri.

Kejahatan Saulus


Saulus nama awal Paulus sebelum ia bertobat, bukan hanya seorang perancang kejahatan, tetapi ia adalah pelaku kejahatan yang bersifat massif dan sistemik.

“Ketika pecah penganiayaan terhadap jemaat, hati Paulus berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan.

Ia menghadap Imam Besar dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya jika ia menemukan lagi-laki atau perempuan yang mengikuti jalan Tuhan.

Ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kis 9: 1-2) untuk dibunuh dan dimasukkan ke dalam penjara.

Paulus Bertemu Dengan Yesus


Untuk melaksanakan niat dan rancangan jahatnya, Saulus dalam perjalanan ke Damsyik bertemu dengan Yesus yang berkata: “Saulus Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke kota”. Ketika ia bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa” (Kis 9: 4-7.8). Hasil dari perjumpaan dan tanya jawab dengan Yesus itu, Paulus menjadi buta dan ‘tidak melihat apa-apa.’

Apabila seperti Paulus kita merancang atau merancanakan kejahatan, apalagi sampai kita melaksanakannya, kita mungkin tidak bertemu dengan orang lain karena kita bersembunyi, tetapi kita pasti bertemu dengan Tuhan dengan cara apa saja dan dalam keadaan apa saja.

Rencana kejahatan dan kegiatan kejahatan tidak mungkin tidak ada buahnya yang buruk atau akibatnya yang negatif.

Segala yang jahat dapat diibaratkan dengan menabur benih. Kalau yang kita tabur adalah biji yang buruk, pasti yang tumbuh adalah buah yang buruk dan busuk.

Seperti biji yang buruk itu, rancangan yang jahat pasti membawa akibat yang buruk bagi hidup manusia. Paulus menjadi buta adalah ganjaran atau akibat dari rencananya yang jahat dan perbuatannya yang buruk.

Tuhan Bukan ‘Hakim’ Yang Bengis Dan Kejam


Pertanyaannya, apa ganjaran atau akibat yang buruk itu datang dari Tuhan? Kita harus amat hati-hati untuk mengatakan bahwa Tuhan menggajari setiap rencana dan kegiatan yang jahat.

Apa pun alasannya, Tuhan bukan Seorang Hakim yang bengis dan kejam. Ia tidak menghukum manusia agar manusia menjadi hancur dan menderita, binasa dan mati.

Secara alami, rencana dan perbuatan jahat pasti membuahkan atau menghasilkan akibat yang buruk.

Rencana dan perbuatan jahat adalah dosa yang pasti membawa dampak negatif atau buruk bagi manusia.

Kalau saya mencuri harta milik orang lain, bisa saja orang lain membunuh saya atau memasukkan saya ke dalam bui atau penjara. Kalau saya membunuh orang lain, pasti akibat dari pembunuhan itu akan merusak atau menghancurkan kehidupan saya.

Atau apabila saya menciptakan dan melakukan bom bunuh diri, jelas kematian yang terjadi adalah akibat dari kejahatan kemanusiaan yang saya lakukan.

Jadi secara prinsipiil penderitaan yang kita alami bukanlah ganjaran dan balasan, hukuman atau siksaan dari Tuhan.

Dalam kisah Paulus, memang akibat yang dialami dan ditanggung oleh Paulus adalah buta atau ‘tidak melihat apa-apa.’

Tetapi pengalaman buta itu justru dipakai oleh Tuhan untuk membuat Paulus bertobat atau menjadi “alat pilihan” bagi Tuhan “untuk memberitakan nama” Tuhan “kepada bangsa-bangsa lain, kepada raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis 9: 15).

Secara teologis, penderitaan bukan merupakan ‘siksaan atau hukuman’ dari Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan penderitaan dan kematian bagi manusia.

Sebaliknya dalam penderitaan apa pun, Tuhan masih tetap bekerja untuk mendatangkan hal-hal yang baik bagi diri kita sendiri, bagi orang lain dan bagi dunia.

Sebab itu, janganlah kita pernah merancangkan kejahatan dan melakukan kejahatan apa saja di dunia ini.

Perintah Tuhan amat jelas dan tegas: *“Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik” (Mzm 34: 15).

Kejahatan apa saja, apalagi kejahatan kemanusiaan seperti penyiksaan dan pembunuhan adalah “dosa berat” yang pasti mendatangkan efek atau akibat amat buruk bagi hidup sendiri dan bagi hidup orang lain.

Apabila kita mengalami penderitaan, kesusahan atau kesulitan dalam hidup entah karena dosa atau karena peristiwa alami seperti bencana alam, kita tidak boleh mencap atau menganggap Tuhan sebagai "hakim yang bengis dan kejam."

Sebaliknya dalam penderitaan, kesusahan dan kesulitan yang kita alami, Tuhan tidak mungkin meninggalkan apalagi menyiksa kita karena dosa dan kejahatan yang kita lakukan.

Sebaliknya Dia tetap memperlihatkan kebaikan dan belas kasih-Nya, kerahiman dan kasih sayang-Nya kepada manusia.

Dalam jenis penderitaan dan kesusahan apa pun, kita harus yakin dan percaya kepada Tuhan dan seperti Musa berseru kepada-Nya: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah-limpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34: 6).

Penderitaan dan kesusahan apa pun adalah jalan amat istimewa atau _*‘jalan Tol’* bagi Tuhan untuk menyatakan kasih sayang-Nya yang besar, kesabaran-Nya yang panjang, kasih dan kesetiaan-Nya yang berlimpah-limpah.

Maka janganlah kita pernah kecewa, putus asa dan putus harapan bila kita sendiri atau orang lain mengalami penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam hidup.

Bagaimana pun di dalam pengalaman penderitaan yang berat, kesusahan yang besar dan kesulitan yang banyak, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8: 28).

Dalam situasi penderitaan seberat apa pun dan dalam kondisi sulit sebesar atau sebanyak apa pun, kita harus terus mengasihi Tuhan dan tidak boleh membenci atau meninggalkan Dia.

Penderitaan, kesusahan dan kesulitan apa apa pun merupakan pekerjaan dan karya Tuhan untuk selalu ‘mendatangkan kebaikan’ bagi manusia.

Doaku dan berkat Tuhan

Mgr Hubertus Leteng.