Renungan Harian Katolik Rabu 18 Mei 2022 -->

Header Menu

Renungan Harian Katolik Rabu 18 Mei 2022

Patris Trikora
Selasa, 17 Mei 2022

Renungan Harian Katolik Rabu 18 Mei 2022, Pekan V Paskah


Renungan Harian Katolik Rabu 18 Mei 2022, Pekan V Paskah


Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 1-6; Yohanes 15: 1-8

Renungan Harian Katolik Rabu 18 Mei 2022


AMAT PERLU HIERARKI KEKUASAAN DALAM HIDUP BERSAMA


Kehidupan bersama tidak selalu berjalan mulus, aman dan damai. Pasti selalu ada persoalan dan masalah yang muncul. Persoalan dan masalah bisa datang dari dalam, tetapi bisa juga datang dari luar.

Persoalan dan masalah yang terjadi bisa diatasi sendiri tanpa melibatkan orang lain. Tetapi ketika secara internal tidak ada solusi yang ditemukan, mau atau tidak mau mesti ada intervensi atau campur tangan dari luar.

Secara eksternal, intervensi atau campur tangan dari luar biasanya datang dari pihak ketiga, yang memiliki otoritas hak dan kekuasaan yang lebih tinggi.

Contoh dalam ruang lingkup pemerintahan misalnya demikian. Bila ada persoalan dan masalah pada tingkat RT atau RW, pemerintahan desa dan kelurahan mesti turun tangan.

Bila ada persoalan dan masalah pada tingkat desa atau kelurahan, pemerintahan tingkat kecamatan mesti bertanggung jawab. Bila ada persoalan dan masalah pada tingkat desa atau kelurahan, pemerintahan pada tingkat kecamatan mesti melakukan pemecahan atas persoalan dan masalah yang terjadi.

Begitu seterusnya dinamika atau lalulintas penanganan dan penyelesaian atas persoalan dan masalah pada setiap tingkat lanjutan baik pada tingkat kecamatan, tingkat daerah atau kabupaten, tingkat propinsi dan tingkat nasional sampai pada tingkat internasional.

Tingkat kekuasaan pada setiap level pemerintahan ini dikenal dengan sebutan 'hierarki'. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online hierarki pertama-tama berarti “urutan tingkatan atau jenjang jabatan (pangkat kedudukan)”.

Selain itu, hierarki berarti *“organisasi dengan tingkat wewenang dari yang paling bawah sampai yang paling atas”.

Hierarki Dalam Ruang Lingkup Keagamaan


Hierarki tidak hanya dikenal dalam ruang lingkup pemerintahan, tetapi juga dalam ruang lingkup keagamaan dan budaya. Bacaan I pertama hari ini menggambarkan perlunya hierarki dalam kehidupan beragama.

“Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa,kamu tidak dapat diselamatkan’ Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.

Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu." Setibanya mereka di Yerusalem, “bersidanglah rasul-rasul itu dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu” (Kis 1: 1-2.6).

Dari kisah suci ini, perkara sunat atau tidak sunat menjadi sebuah persoalan dan masalah yang menjadi pokok perdebatan antara Paulus dengan orang-orang Yudea di Antiokhia.

Menurut warisan budaya turunan Musa, sunat menyelamatkan. Dalam warisan budaya ini, orang selamat dan diselamatkan bila orang menerima dan melakukan sunat.

Akan tetapi menurut Paulus dan Barnabas, manusia selamat dan diselamatkan bukan karena sunat, tetapi karena iman dan kepercayaan akan Tuhan dan Injil-Nya.

“Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1: 16). Kepada perempuan yang disembuhkan dari sakit pendarahan, Yesus sendiri berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.’ Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu” (Mat 9: 22). Iman akan Tuhan dan Injil-Nya, dan bukan sunat, menyelamatkan manusia.

Oleh karena debat dan diskusi tentang budaya sunat atau tidak sunat itu tidak dapat selesai dan diselesaikan di Antiokhia, maka Paulus dan Barnabas membawanya ke tingkat hierarki lebih tinggi, yaitu ‘kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem.”

Di sanalah persoalan dan masalah tentang sunat itu dibicarakan dan didiskusikan dengan lebih tenang, aman dan damai untuk mendapatkan ketetapan dan keputusan yang lebih akurat dan bersifat mengikat untuk kehidupan jemaat di Antiokhia.

Urgensi Pentingnya Hierarki


Dalam kehidupan bersama baik di dalam masyarakat berbangsa dan bernegara maupun dan terlebih di dalam masyarakat berbudaya dan beragama, keberadaan dan kehadiran hierarki itu amat urgen, penting dan mendesak.

Hierarki memiliki atau bahkan sengaja “diberikan” kedaulatan, kewenangan dan kekuasaan tertinggi. Dengan kedaulatan dan kewenangan itu hierarki dapat menjembatani dan membatasi serta mengatasi dan menyelesaikan debat-debat 'kusir' dan diskusi-diskusi 'kadrun' yang sifatnya cenderung individualis dan separatis untuk memisah-misahkan orang dan memecah belah keutuhan, persatuan dan kesatuan hidup bersama.

Oknum-oknum yang terlibat dalam debat 'kusir' dan diskusi 'kadrun' cenderung menyudutkan dan memojokkan orang-orang lain atau kelompok-kelompok lain yang amat khas, unik dan berbeda dalam kehidupan masyarakat.

Biasanya para “debator” atau para “diskutor” individualis dan separatis mencari pembenaran diri dan bukan kebenaran yang sejati.

Mereka mengklaim kebenaran subjektif dan individualis sebagai suatu kebenaran yang berlaku dan diberlakukan bagi semua orang dan semua golongan.

Mereka tidak lapar dan haus untuk mencari dan mendapatkan kebenaran “objektif dan superlatif” yang berada di atas semuanya dan mengasi semuanya.

Mereka enggan menggali dan mengangkat kebenaran-kebenaran “unitatif” yang merangkul, mempersatukan dan mengikat-satukan semua orang dan semua golongan dalam hidup bersama.

Solusi Atas Masalah Ada Pada Hierarki


Solusi atas semua persoalan dan masalah dalam hidup bersama ada di tangan hierarki yang menuntut kepatuhan dan ketaatan dari semua orang atau semua warga jemaatyang berada di bawah kewenangan dan kekuasaan hierarki.

Ketatatan dan kepatuhan terhadap hierarki amat mutlak, sehingga pola sikap dan prilaku, pola pikir dan pola bicara serta pola kata dan pola tindakan setiap orang dan setiap warga tidak berjalan “liar” dan seenaknya mengandungi dan melahirkan benih-benih kekerasan, serta menyebarkan ancaman radikalisme dan terorisme serta ancaman ketakutan dan kegelisahan bagi manusia.

Karena itu ketaatan dan kepatuhan hierarkis mesti ditanam sampai berakar dalam sanubari manusia dan bertumbuh subur dalam diri setiap orang, setiap warga masyarakat dan warga agama dan budaya.

Bila ada orang atau warga yang membangkang dan melawan teguran dan peringatan serta ketetapan dan keputusan hierarki, pihak hierarki sebagai pemegang kedaulatan tertinggi mesti berani mengambil sikap yang tegas dan bahkan ‘keras’ terhadap oknum, lembaga atau aliran atau pengajaran yang mengandung benih radikalisme dan separatisme serta berpotensi menyebarkan ancaman terorisme, kegelisahan dan ketakutan bagi manusia.

Bila perlu dan diperlukan, hierarki melakukan ‘pembekuan hak’ dan penarikan ‘lisensi kewenangan’ yang ada pada setiap pembangkang dan pemberontak terhadap hierarki.

Dengan demikian dapat tercipta dan terpelihara kesatuan dan persatuan, harmoni dan toleransi, persaudaraan dan persahabatan semesta dalam hidup manusia di bawah kolong langit ini.

Marilah kita berdoa bersama Bunda Maria, agar kita mampu menciptakan dan memelihara persatuan dan kesatuan hidup di dalam Gereja dan masyarakat di mana saja kita hidup dan bekerja di dunia ini.

Doaku dan berkat Tuhan

Mgr Hubertus Leteng.