Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu) -->

Header Menu

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu)

Patris Trikora
Sabtu, 18 Juni 2022

Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu)


"Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?"


Bacaan Injil Matius 7:1-5 "Hal Menghakimi"


1: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

2: Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

3: Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

4: Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

5: Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu)


Saudara terkasih dalam Kristus, setiap hari kita berurusan dengan hal menilai atau dinilai. Kita terus memberi penilaian terhadap sesuatu atau seseorang.

Tentu saja, hasilnya menentukan pilihan, keputusan, dan sikap kita. Jika salah menilai tentunya dapat berakibat pada pengambilan keputusan dan bersikap yang salah.

Dalam hal menilai atau dinilai, kita tidak bisa menghindarinya karena begitulah hidup ini. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana prosesnya.

Dalam Bacaan Injil hari ini, Matius memuat khotbah Tuhan Yesus di atas bukit yang isinya mengenai bagaimana kerajaan surga itu hadir di bumi ini melalui doa dan praktik keseharian hidup murid-murid Yesus.

Termasuk dalam hal menilai sesama. Larangan menghakimi bukan dimaksudkan agar kita berhenti menilai, melainkan terfokus pada patokan untuk menilai.

Ukurannya harus yang objektif, artinya berlaku untuk semua termasuk bagi diri si penilai. Janganlah penilaian yang buruk kita jatuhkan pada seseorang, sementara kita sendiri meleset dari standar yang berlaku untuk penilaian itu, atau dengan kata lain kita menilai orang lain buruk, namun kita menganggap diri benar atau membenarkan diri sendiri tanpa mau dinilai oleh orang lain. Itu adalah sebuah kemunafikan.

Harus diakui bahwa banyak penilaian sebenarnya berlandaskan patokan subjektif belaka. Pada dasarnya, jauh didalam hati hanya bermotif tidak suka. Adapun penyebabnya bermacam-macam seperti iri hati, sentimen, kebencian, atau ikut-ikutan karena terhasut.

Kemudian kita seenaknya menghakimi sesama, bahkan tak jarang dengan kejamnya. Sikap ini harus dihindari oleh setiap insan secara khusus kita umat Kristiani..

Kita boleh bersikap kritis, namun sebelumnya kritislah terhadap diri sendiri, sebelum menghakimi orang lain hakimilah dirimu terlebih dahulu, atau sebelum menyuruh orang lain untuk bercermin, kita harus bercermin terlebih dahulu agar standar yang kita pakai itu sama, benar dan adil.

Dari Bacaan Injil diatas, ada beberapa alasan mengapa Tuhan Yesus melarang kita untuk menghakimi orang lain.

Pertama, penghakiman kita itu biasanya cerminan dari persoalan yang sama yang ada di dalam diri kita. Kita bagaikan melihat selumbar yang kecil di mata saudara kita, tetapi tidak melihat balok di mata kita. Seharusnya justru kita harus dihakimi.

Kedua, penghakiman kita itu seringkali sangat tidak tepat karena pengetahuan kita tentang orang lain sangat terbatas, sehingga dengan demikian menjadi tidak adil.

Penghakiman kita memasukkan orang yang kita hakimi ke dalam kotak yang kita buat sendiri. Jadi sebetulnya penghakiman kita membuat kita tidak bisa melihat sesama sebagai pribadi yang utuh, kaya dan unik dengan segala pengalamannya.

Penghakiman kita membuat sesama seolah mati langkah, hanya sebatas kotak yang sudah kita terapkan untuk dia.

Ketiga, dengan menghakimi sesama, kita tidak mampu melihat kebaikannya. Karena tidak mampu melihat sisi baiknya, maka kita tidak bisa mengasihinya.

Keempat, penghakiman itu adalah hak Tuhan. Tuhan yang berhak menghakimi karena Ia yang menciptakan, Ia yang memberi hidup dan menentukan langkah hidup kita semua karena Ia adalah Pencipta kita.

Dengan kebijaksanaan-Nya yang agung, Ia mampu mengarahkan hidup setiap orang menuju kepada kebaikan yang berkenan di hati-Nya. Ia bisa saja mengubah orang yang jahat jadi baik, yang berdosa menjadi suci.

Sudah seharusnya kita menyerahkan sesama kita pada bimbingan dan penghakiman Tuhan. Tugas kita ialah bertobat dan menuju kepada hidup yang lebih baik.

Sebagai sesama ciptaan, kita lebih baik fokus pada pertobatan pribadi kita. Kita sama-sama orang berdosa yang sedang berusaha bertobat menuju ke arah yang lebih baik.

Fokus pada pertobatan justru menyadarkan kita bahwa kita belum sempurna, sama seperti sesama kita juga belum sempurna.

Kesadaran ini menolong kita untuk lebih sabar terhadap kekurangan dan keterbatasan sesama kita.

Kalau sesama kita belum sempurna, membuat kesalahan di sana-sini, kita bisa lebih sabar untuk tidak mudah menghakimi. Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu

Jalan ini akan menuntun kita kepada pemahaman dan kesadaran akan sesama kita secara lebih baik. Hal ini menolong kita untuk lebih mencintai sesama.

Doa Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu)


Ya Yesus, Tuhan dan Guru bijaksana dan penuh cinta. Kami mohom tambahkanlah iman kami untuk mencintai dan melihat kebaikan sesama sekali pun itu sulit. Semoga Sabda-Mu hari ini selalu hidup di dalam hati kami, Amin.

Demikian Bacaan Injil dan Renungan Katolik Hari Ini Senin 20 Juni 2022 (Jangan Mudah Menghakimi Orang Lain, Hakimi Dirimu Terlebih Dahulu). Kiranya melalui firman-Nya kita semakin sadar bahwa kita tidak pantas untuk menghakimi sesama karena hanya Tuhanlah hakim yang adil. Semoga***