Khotbah Katolik Hari Raya Pentakosta Minggu 5 Juni 2022 -->

Header Menu

Khotbah Katolik Hari Raya Pentakosta Minggu 5 Juni 2022

Patris Trikora
Jumat, 03 Juni 2022

Khotbah Katolik Hari Raya Pentakosta Minggu 5 Juni 2022


"Hari Raya Pentakosta/ Roh Kudus Turun atas Para Rasul"
(Ilustrasi: Google)



KHOTBAH KATOLIK PENTAKOSTA MINGGU 5 JUNI 2022


Saudara terkasih, Empat puluh hari sesudah Paskah, yaitu Hari Raya Kebangkitan Kristus, kita merayakan Hari Raya Yesus naik ke surga.

Akhirnya hari ini, lima puluh hari sesudah Paskah kita merayakan Pentakosta, Hari Raya kedatangan Roh Kudus.

Kedatangan Roh Kudus itu dalam Kisah para Rasul diceriterakan sebagai suatu tiupan keras dari langit, dan tampaklah bagaikan lidah-lidah api yang hinggap di atas murid-murid Yesus itu.

Ternyata sesudah kembali kepada Bapa-Nya Yesus menetapi janji-Nya untuk mengirimkan seorang Penolong bagi murid-murid-Nya, yakni Roh Kudus.

Saudara terkasih dalam Kristus, Yesus ternyata mengirimkan Roh Kudus bukan hanya kepada murid-murid-Nya, yang berkumpul menantikan-Nya bersama Bunda Maria di suatu ruang, tetapi juga kepada aneka suku dan bangsa di negara-negara lain, yang mengalami peristiwa itu di Yerusalem.

Semua dan setiap orang dapat saling mendengar dan memahami satu sama lain menurut bahasa masing-masing.

Ternyata pewartaan Kabar Gembira Yesus Kristus ditujukan kepada semua bangsa tanpa perbedaan. Dengan demikian Injil Kristus adalah universal.

Dalam Kitab Suci hari ini ada tiga pesan yang disampaikan kepada kita dalam merayakan Hari Raya Pentakosta ini.

1. Pertama: Yesus naik ke surga tidak berarti Ia meninggalkan murid-murid-Nya. Ia pergi justru untuk memenuhi janji-Nya.

Ia memang pergi namun tetap hadir meskipun dengan perubahan cara atau bentuk kehadiran-Nya di tengah umat-Nya di seluruh dunia ini.

Dahulu secara badaniah, jasmani dan tampak, dan hanya dikenal di Palestina. Tetapi Yesus dalam Roh-Nya sekarang hadir secara rohani, spiritual, tak tampak namun nyata.

Justru sebagai dalam Roh, Kristus tidak lagi terbatas kehadiran-Nya di suatu tempat, hanya di tempat tertentu, atau hanya pada salah seseorang belaka, melainkan secara tak terbatas, kapan dan di manapun juga.

Dan dengan cara inilah dalam Roh-Nya Yesus Kristus dapat melaksanakan karya penyelamatan-Nya secara universal, kepada siapapun secara tidak terbatas dan sungguh secara "katolik", artinya tidak terbatas.

Setiap orang disapa oleh-Nya atau oleh pengikut-Nya sesuai dengan "bahasa suku dan bangsa-nya" untuk menerima tawaran-Nya untuk diselamatkan.

2. Kedua : Dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus, Rasul Paulus menegaskan, bahwa karunia Allah adalah rupa-rupa, tetapi hanya ada satu Roh.

Kristus oleh Paulus diumpamakan sebagai satu tubuh, tetapi banyak anggotanya. Demikian pula Gereja merupakan satu tubuh, tetapi banyak anggotanya.

Dan kepada umat di Roma, Paulus menerangkan, bahwa kehidupan rohani kristiani yang otentik hanyalah mungkin apabila diukur dan dihayati menurut Roh, bukan menurut daging.

Maksudnya hidup menurut daging berarti hidup hanya mengikuti nafsu, keinginan sementara, dan hanya memperhatikan kepentingan diri melulu.

Karena itu apa yang dapat dicapai tidak lebih daripada kepuasan diri selama hidupnya sekarang ini yang hanya sementara.

Paulus mengajak kita hidup juga menurut Roh. Roh inilah yang memberi kekuatan, vitalitas, guna menjaga dan memperkuat diri bukan hanya sebagai manusia daging biasa, melainkan sebagai manusia rohani/batin yang akan dapat hidup selamanya.

Dengan diperkuat dengan Roh, manusia tidak akan mudah menjadi hamba bahkan menjadi budak kenginan atau nafsu duniawi belaka.

3. Ketiga : Merayakan Hari Raya Pentakosta secara benar dan sungguh-sungguh berarti bersedia dan bertekad untuk hidup, bersikap dan bertindak seperti para rasul.

Mereka adalah orang-orang biasa, sederhana, bukan orang-orang terdidik dan terpelajar, bukan orang-orang berkedudukan tinggi.

Tetapi berkat kekuatan Roh Kuduslah mereka berani meneruskan dan melaksa-nakan tugas pewartaan Yesus Kristus sebagai Penyelamat kepada semua orang sampai ke ujung bumi.

Dengan kekuatan Roh Kudus, setiap orang yang sungguh percaya dan mengasihi Yesus Kristus, harus mau dan bersedia merasul.

Masing-masing menurut "bahasa pribadi dan hidupnya sendiri". "Kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah" (Kis 2:11).

Kesimpulannya ialah: Peristiwa Pentakosta 20 abad yang lalu, yang diselenggarakan oleh Tuhan di Yerusalem, di zaman kita sekarang ini harus diaktualisasikan kembali.

Dalam konteks keadaan negara dan masyarakat kita sekarang ini, Roh Kristus tetap mendorong kita, sebagai Gereja yang bersedia dan dengan komitmen untuk secara aktif mengambil bagian dalam memperkenalkan ajaran, hidup, sikap dan perbuatan Yesus Kristus sebagai Penyelamat kepada semua orang.

Kita semua masing-masing sesuai dengan bahasa hidup kita. Bukan hanya puas dengan menjadi orang Katolik bagi diri sendiri saja, tetapi sekaligus meneruskan keyakinan iman kita itu kepada siapapun lainnya, yaitu lewat sikap, perilaku, perbuatan dan bahasa hidup kita masing-masing, namun selalu dijiwai oleh Roh yang satu dan sama, yaitu Roh Kudus.