Renungan Katolik Hari Ini Pekan VII Paskah Sabtu, 4 Juni 2022 (Lawan Bisa Datang Dari Dalam) -->

Header Menu

Renungan Katolik Hari Ini Pekan VII Paskah Sabtu, 4 Juni 2022 (Lawan Bisa Datang Dari Dalam)

Patris Trikora
Jumat, 03 Juni 2022

Renungan Katolik Hari Ini Pekan VII Paskah Sabtu, 4 Juni 2022 (Lawan Bisa Datang Dari Dalam)


Renungan Katolik Hari Ini Pekan VII Paskah Sabtu, 4 Juni 2022 (Lawan Bisa Datang Dari Dalam)



Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 4 Juni 2022


LAWAN BISA DATANG DARI DALAM


Sesuai dengan sabda Tuhan, Paulus menjadi tahanan yang dipindahkan ke Roma untuk bersaksi tentang Tuhan di sana.

Di Roma ia diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama seorang prajurit yang mengawalnya. Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, ia berkata:

“Saudara-saudara, aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita! Meskipun demikian, aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma. Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat suatu kesalahan pun padaku yang setimpal dengan hukuman mati. Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya, dan karena itu terpaksalah aku naik banding kepada kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku” (Kis 28: 16-19).

Dari pengalaman Paulus ini, ada dua pikiran yang berguna bagi kita.

1). Orang Sendiri Tidak Selamanya Mendukung


Dalam pemeriksaan di Yerusalem sama sekali tidak ditemukan kesalahan apa pun pada diri Paulus yang setimpal dengan hukuman mati.

Karena itu setelah para hakim memeriksa Paulus, 'mereka bermaksud melepaskan' dia. Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya.

Paulus adalah orang Yahudi. Dia bukan orang asing dari bangsa lain, tetapi ia berasal dari bangsa Yahudi. Ia adalah kelahiran orang-orang Yahudi.

Namun justru orang Yahudi tidak mendukung pembebasan Paulus. Paulus tidak bersalah dan tidak ditemukan kesalahan, dan karena itu dia dinyatakan bebas atau dibebaskan dari hukuman mati.

Akan tetapi justru bangsanya sendiri, yaitu bangsa Yahudi mendukung agar Paulus tetap dihukum mati meskipun ia tidak bersalah dan tidak ditemukan kesalahan pada dirinya.

Kita amat bersyukur bila kita tidak mengalami kejadian seperti Paulus. Bangsa kita atau keluarga kita pada umumnya selalu membela kita dalam peristiwa apa saja.

Mereka tidak akan meninggalkan kita ketika kita berada dalam suatu urusan perkara atau persoalan apa saja.

Mereka akan memihak kita dan selalu mendukung dan menopang kita, sehingga kita tidak merasa sendirian dalam kesulitan atau persoalan apa saja.

Meskipun demikian, kita harus tetap waspada dan mengakui dengan jujur apabila bangsa kita atau keluarga kita tidak selalu berada di pihak kita.

Kita harus merenungkan kata-kata nabi Mikha ini: "Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya" (Mi 7: 5-6).

Yesus sendiri menegaskan ulang kondisi yang sama ini: “Musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya” (Mat 10: 36).

Bahkan lebih dari semua manusia, Yesus sendiri mengalami pengkhianatan ketika salah seorang murid-Nya yaitu Yudas Iskariot mengkhianati Dia demi uang atau harta kekayaan.

Sesudah Yudas Iskariot menerima tiga puluh uang perak dari imam-imam kepala, ia “mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus” ( Mat 26: 16) kepada imam-imam kepala untuk dijatuhi hukuman mati.

Tentu kita tidak boleh mencurigai bangsa kita atau keluarga kita sendiri. Tetapi apabila ada bangsa kita atau keluarga kita sendiri mengkhianati kita tanpa dasar atau alasan yang memadai, terimalah pengalaman pahit itu dengan tabah, dengan sabar dan kuat.

2). Janganlah Putus Asa


Apabila kita mengalami peristiwa pahit yang tidak semestinya terjadi, hendaklah kita tidak putus asa. Paulus menceritakan pengalaman pengadilan atas dirinya kepada bangsa Yahudi di Roma.

Ia bercerita bahwa bangsanya sendiri, yaitu orang-orang Yahudi di Yerusalem mengkhianati dan menentang dia untuk dibebaskan karena ia tidak bersalah.

Bila kita mengalami pengkhianatan dari orang-orang dalam atau dari orang-orang kita sendiri, hendaklah kita menanggung pengalaman pahit itu dengan tabah dan sabar.

Kita tidak boleh putus asa atau putus harapan. Kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan mengetahui kebenaran peristiwa yang terjadi atas diri kita.

Bila kita memang bersalah, baiklah kita menyesal dan mohon ampun pada Tuhan dan bersikap jujur dan tulus juga kepada orang lain.

Akan tetapi bila kita berada pada posisi yang benar, namun tetap dipersalahkan, terimalah pengalaman itu sebagai sebuah kesaksian kepada orang lain.

Intinya, kalau kita berada dalam posisi yang benar, janganlah pernah kita malu atau takut. Kita harus merenungkan sabda Tuhan ini:

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka” (Luk 18: 7-8).

Bila kita benar dan berada dalam posisi yang benar, Tuhan pasti memihak kita dan membenarkan kita. Dengan kata lain, pada saat kita benar, Tuhan tidak akan terlambat atau menunda-nunda waktu untuk menolong kita.